jump to navigation

Novel: Gajah Mada Wednesday, April 9, 2008

Posted by piyut in Tulisan.
4 comments

Akhir-akhir ini aku sering baca novel. Baru saja aku merampungkan novel Gajah Mada, karya Langit Kresna Hariadi. Mungkin agak telat karena novel ini sudah lama terbit dan dijual di toko-toko buku. Aku suka dengan cerita-cerita sejarah kerajaan yang didalamnya terdapat cerita tentang tokoh-tokoh jaman kerajaan dulu yang mempunyai olah kanuragan dan ilmu-ilmu yang mumpuni. Sebelum membaca Gajah Mada, aku sudah membaca cerita silat (cersil) tentang mahesa jenar dalam novel Naga Sasra  Sabuk Inten karya SH Mintarja. Saking asyiknya, aku sampai lupa waktu dan tempat. hehehe..sampai kantor aku langsung buka komputer dan langsung baca Naga Sasra Sabuk Inten, beruntung waktu itu tidak banyak kerjaan. Saking menikmati dan menghayati dengan sedikit berkhayal, aku bisa mempraktekkan pada waktu mahesajenar mengeluarkan ilmu andalannya, Sasrabirawa.

Mengenai novel Gajah Mada, aku baru merampungkan Gajah Mada I. Sebelum aku membaca novel Gajah Mada, terbesit dalam pikiran kalau dalam novel ini akan bercerita tentang siapa Gajah Mada, semacam biografi gitu lah. Tapi ternyata pikiranku meleset jauh, dalam novel Gajah Mada I ini. Gajah Mada langsung diceritakan menjadi seorang ‘bekel’ di kerajaan Majapahit, tidak diceritakan dari mana asal Gajah Mada, siapa orangtuanya dan sanak saudara. Gajah Mada adalah seorang ‘bekel’ yang gagak perkasa, cerdas, tegas ,mempunyai olah kanuragan yang tinggi dan berwibawa. Dia menjadi pimpinan dari sebuah pasukan Bhayangkara, pasukan pengaman raja dan keluarganya. Inti dari novel Gajah Mada I ini adalah pemberontakan dari seorang rakrian Kuti (Ra Kuti) dan rakrian-rakrian yang lain (Ra Pangsa, Ra Banyak, Ra yuyu, Ra Tanca, dll), pemberontakan terbesar di jaman Majapahit. Ra Kuti dan teman-temannya berhasil mengambil alih istana Majapahit. Jayanegara sempat dilarikan oleh pasukan Bhayangkara pimpinan Gajah Mada, begitu pula dengan keluarga kerajaan. Dalam pemberontakan ini, banyak cerita-cerita yang menarik dan bisa buat orang penasaran dengan adanya telik sandi di kubu pemberontak dan dari pasukan Bhayangkara itu sendiri. Sangat susah aku untuk menebak, siapa telik sandi dari Bhayangkara dan dari pasukan pemberontak. Bagi yang belum membaca, novel Gajah Mada I ini sangat menarik dan layak untuk di baca. Novel Gajah Mada II sudah menunggu, beli atau pinjem lagi ? hehehe….

Sinetron Cahaya membosankan Thursday, April 3, 2008

Posted by piyut in Tulisan.
11 comments

Dulunya aku suka dengan sinetron Cahaya, gaya kocak si tante Elga, kepolosan Cahaya dan banyak lagi adegan-adegan di sinetron ini yang bikin ketawa. Seiringnya dengan makin panjangnya cerita dalam sinetron ini, aku merasa ada yang aneh dan janggal di setiap episode, banyak adegan yang menurutku aneh dan tidak masuk akal di kehidupan sehari-hari. Istriku juga berkomentar sama, apakah ini memang disengaja agar emosi dari penonton ikut dalam cerita atau mungkin ada hal lain kenapa cerita dari sinetron ini sudah mulai membosankan? Cerita terakhir yang aku dan istri tonton adalah episode tadi malam, 3 maret 2008. Disitu ada adegan dimana Eva menjebak Raka dan Cahaya dan mereka dikurung dalam satu rumah kontrakan, didalam rumah itu sudah ada semua perlatan mandi. Selama 3 hari mereka di kurung, Satria menyuruh Agung untuk mencari Cahaya. Dalam pencarian, Agung bertanya kepada seseorang dengan menunjukkan foto Cahaya dan kebetulan orang tersebut kenal dan tau dimana Cahaya tinggal. Orang tersebut tak lain dan tak bukan adalah suruan dari Eva. Agung langsung menyampaikan berita tersebut ke bosnya, Satria langsung mencari rumah tersebut. Di sisi lain, dengan kelicikan Eva, pintu rumah yang dipakai untuk mengurung Raka dan Cahaya dibuka kuncinya, dengan maksud agar Satria bisa langsung masuk ke rumah. Rencana Eva tepat sekali, waktu Satria datang ke rumah kontrakan, dia langsung buka pintu dan disaat yang sama, Eva memasukkan mainan ular-ularan ke kamar rumah kontrakan. Cahaya yang ada dikamar sehabis mandi, kontan langsung kaget dan berteriak, Raka yang mendengar teriakan Cahaya, langsung menuju ke kamar, dengan reflek Cahaya langsung memeluk Raka yang pada saat itu baru selesai mandi dan hanya memakai singlet. Satria yang sudah masuk ke rumah kontrakan langsung melihat adegan tersebut dan langsung memukul Raka dan menyeret Cahaya untuk di bawa pulang. Cahaya mencoba menjelaskan kalau tuduhan Satria salah tapi tidak di gubris. Kelakuan Eva tidak berhenti disitu aja, dia mulai bersikap baik dan berusaha untuk menjebak lagi, dia minta Satria mengecek rumah kontrakan, apakah ada bukti Cahaya berselingkuh. Dan anehnya, sewaktu Satria datang ke rumah kontrakan, di situ sudah ada dvd, tv dan photo-photo Raka dan Cahaya selama ada di rumah kontrakan. Yang bikin aku bosan, kenapa Satria percaya begitu saja, apa tidak berpikir, pasti ada orang yang membuat gambar/foto Raka dan Cahaya? Membosankan sekali! itu hanya salah adegan dari sekian banyak adegan yang membosankan!

Seminggu bertarung melawan sakit Wednesday, April 2, 2008

Posted by piyut in Tulisan.
add a comment

Selama seminggu kemarin, anakku Firda terkena penyakit panas, batuk dan pilek. hmm..mungkin kecapekan main sama om dan tantenya selama long weekend kemarin atau mungkin karena cuaca yang tidak bersahabat, musim pancaroba sering membawa penyakit terutama anak-anak, lha orang dewasa saja juga mengalaminya. Inilah pertama kalinya, aku dan istriku menerima cobaan dari Allah dalam mengurus anak. Mulai senin setelah long weekend kemarin, Firda sudah mulai batuk-batuk dan pilek. Sampai hari rabu, Firda minum obat penurun panas dan batuk, obat persediaan, kebetulan waktu masih di bandung, Firda diberikan obat penurun panas oleh dokter setelah imunisasi. Malam kamisnya, Firda belum menunjukkan kemajuan, masih batuk, pilek dan sudah mulai panas. Aku memutuskan untuk segera di bawa ke dokter. Kamis paginya, aku dan istri langsung meluncur ke RSIA Hermina Jatinegara, dokter yang prakter pagi adalah dr maryunis. Dokter bilang Firda terkena radang dan gejalan demam biasa, bisa karena tertular oleh anak-anak tetangga. Dokter memberikan obat puyer, penurun panas dan obat muntah. Sampai hari Jumat, kondisi Firda belum membaik juga. Jumat malam, Firda mau check-up ke dokter lagi, belum sampai 500 meter dari rumah, Firda muntah-muntah di taksi dan langsung nangis, di susu-in tidak mau, akhirnya aku memutuskan untuk balik ke rumah. Sebelumnya mampir di klinik Ibin Sina, disana ada dokter umum. Dokternya memerika sebentar kemudian memberikan obat puyer dan antibiotik, kasihan si Firda, masih kecil sudah minum obat macam-macam. Sesampainya di rumah, aku memutuskan untuk tidak memberi obat puyer yang barusan di dapat dari dokter umum, Firda cukup meminum obat dari dokter anak. Malamnya, suhu badan Firda masih belum turun juga, bahkan bisa dibilang lebih parah dari hari-hari sebelumnya. Firda cuman bisa nangis karena mungkin merasakan pusing yang begitu sangat akibat kepalanya panas. Astaghfirullah, aku cek dengan termometer, suhu badan Firda 39 derajat. Sabtu pagi, aku bawa Firda ke dokter maryunis lagi. Di RS, dokter langsung menyarankan untuk cek darah. Sekitar satu jam, hasil laboratorium keluar juga dan hasilnya NIHIL, alhamdulillah, tidak ada gejala DB atau tipes. Kata dokter, mungkin obatnya masih belum bereaksi banyak dan suhu badan berkurang pelan-pelan. Malam minggunya, bener-bener membuat aku dan istri khawatir, suhu badan Firda tidak kunjung turun, bahkan lebih parah dari malam sebelumnya, suhu badan Firda naik turun. Semaleman Firda tidak tidur karena merasakan pusing kepala gara-gara suhu badang yang tinggi, terasa panas banget waktu aku sentuh kepala Firda. Aku sempat nangis karena tidak tau harus berbuat apa dan kasihan melihat Firda semalaman nangis. Aku sms ortu di bantul dan kakak dibandung, memberitaukan kondisi Firda yang tidak kunjung membaik. Minggu paginya, kakak sekeluarga dari bandung datang kerumah yang sebelumyna meminta “suwok” ke orang tua. Firda langsung diminumin air putih yang sudah dibacakan doa. Percaya gak percaya, kata temen kakak, Firda “ketempelan” makhluk halus yang ada di pintu belakang dan kata kakak, pagi itu juga sudah di ambil sama temen kakak, Astaghfirullahhal’adzim! Siangnya, Firda sudah mulai membaik dan malam harinya, Firda sudah bisa tidur nyenyak meskipun masih belum seperti biasa. Hari-hari berikutnya Firda sudah menunjukkan kemajuan, suhu badan Firda sudah normal tapi masih sedikit pilek dan batuk. Suara Firda juga habis karena selama seminggu Firda sering nangis. Suaranya jadi nge-bass, mirip kayak suara artis di sinetrok bunga…hehehe.. Alhamdulillah, Firda sudah bisa bercanda dan maem banyak. Pagi ini, ortu dari bantul datang. Semoga, Firda cepet sembuh dan sehat! Amin!