UPH, Universitas No. 2 Se-Indonesia setelah UI

Posted: Saturday, February 2, 2008 in Tulisan

Barusan baca milist almamaterku, UPH. UPH menjadi universitas No. 2 se-indonesia setelah UI. wow…keren…! Berikut kutipan dari suara pembaruan.

SUARA PEMBARUAN DAILY


Universitas Swasta Tembus Dominasi Negeri

[JAKARTA] Dominasi universitas negeri dalam peringkat perguruan tinggi terbaik di Indonesia mulai dipatahkan oleh universitas swasta. Hasil kajian Majalah Globe Asia, yang diterbitkan pada edisi Februari 2008, memperlihatkan bahwa peringkat universitas swasta seperti Universitas Pelita Harapan (UPH) dan Trisakti unggul atas sejumlah universitas negeri ternama.

Dalam melakukan pemeringkatan, GlobeAsia mengkaji 20 universitas swasta dan negeri, yakni Universitas Pelita Harapan, Trisakti, Tarumanagara, Atmajaya, Parahyangan, Bina Nusantara, Muhammadiyah Malang, Maranatha, Satya Wacana, dan Petra (swasta). Kemudian Universitas Indonesia, Gadjah Mada, Institut Teknologi Bandung, Institut Pertanian Bogor, Padjadjaran, Airlangga, Hasanuddin, Institut Teknologi 10 Nopember, Surabaya, Diponegoro, dan Universitas Sumatera Utara. Sejumlah kriteria ditetapkan sebagai bahan kajian antara lain, jumlah dan kualitas fakultas, kualitas tenaga pengajar, program-program internasional, aktivitas kampus, fasilitas penunjang operasional dalam kampus, dan sebagainya.

Dari kajian itu diketahui bahwa Universitas Indonesia menduduki peringkat pertama dengan total nilai 366, disusul UPH dengan perolehan angka 356. Peringkat ketiga ditempati Universitas Gadjah Mada dengan perolehan keseluruhan kategori 338. (Hasil lengkap lihat tabel)

Peningkatan peringkat universitas swasta itu, tidak lepas dari menjamurnya jumlah dan penawaran fasilitas dan kurikulum yang makin baik dalam dua dekade terakhir.

Perguruan tinggi swasta bahkan berani menambah nuansa baru dalam sistem pendidikan tinggi di Indonesia, dengan membuka diri pada mahasiswa asing, dan juga mendatangkan para pengajar asing sebagai anggota staf pendidikannya.

Menanggapi hasil kajian tersebut, anggota Komisi X DPR, Cyprianus Aoer kepada SP di Jakarta, Selasa (29/1) pagi mengatakan, kualitas perguruan tinggi swasta (PTS) yang lebih baik daripada perguruan tinggi negeri (PTN) menunjukkan adanya peningkatan mutu pendidikan Indonesia.

Menurutnya, fakta lapangan yang dirilis Majalah Globe Asia itu, mengungkapkan bahwa pengelolaan manajemen pendidikan swasta diakui kontribusinya dalam peningkatan mutu pendidikan di Tanah Air. Hal itu menunjukkan juga animo masyarakat terhadap PTS sudah mendapat jaminan dari sisi mutu pendidikan. “Ini mengindikasikan bahwa nilai pendidikan swasta dikaitkan dengan minat masuk pendidikan swasta sudah semakin baik. Ini juga menunjukkan adanya jaminan masa depan bagi lulusan swasta berkaitan dengan peningkatan mutu pendidikan swasta itu sendiri,” katanya.

Cyprianus mengatakan, hasil kajian itu juga menunjukkan bahwa para rektor dan semua staf manajemen PTN tidak bisa mempertanggungjawabkan dana APBN untuk meningkatkan mutu PTN. ” Ketika kualitas PTN lebih rendah dari PTS, maka itu menjadi lonceng peringatan bagi PTN berkaitan dengan akuntabilitas dana publik melalui APBN. Artinya, ini sebuah evaluasi bagi PTN untuk meningkatkan kinerja manajemen pengelolaan pendidikan, rektor dan para stafnya dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan negeri,” tegasnya.

Ditambahkan, sudah saatnya PTN mengevaluasi apakah mutunya sudah baik atau belum. Jika mutu PTN tidak mengalami peningkatan, maka dikhawatirkan lama kelamaan akan ditinggalkan calon mahasiswa, karena mereka sekarang lebih mencari mutu. Apalagi mengingat dari segi dana, pendidikan PTN maupun PTS tidak ada perbedaan. [CAT/WWH/DLS/M-12]


Last modified: 29/1/08

About these ads
Comments
  1. suv says:

    Ya iyalah..
    secara globe asia itu punyanya group lippo..
    jdi skalian ajang promosi uph :)
    Satu pemilik gitu loh :)

  2. piyut says:

    hehehe…emang…:D

  3. anka says:

    hmm. let say from the administration process, di UI rumit bgt,, trus, fasilitasnya ga menunjang, librarynya apalagi, yaa,, wajar bgt sii, kalo makin ga di upgrade, kita juga udah bisa nebak kedepannya kaya apa kan,, sementara makin byk kompetitor yg menawarkan kurikulum based on international subject, di luar negeri, skripsi tuh ga ada, jd buat gw sii, PTN di Indonesia masih tradisional bgt…

  4. loly says:

    Globe Asia punya UPH, wajar aja no.2 se-Indonesia.
    Kalau mau lihat peringkat universitas yang sha dan bisa dipercaya: PDAT (Pusat Data &AnalisisTempo) / SURVEY TEMPO.

  5. gi says:

    yakin lu ptn di indonesia tradisional smua..
    mau main hebat2an interaksi dgn internasional..
    gw bru ngobrol ama anak uph..
    dan otaknya.. pffuhhh…
    Dia minjem buku TA dikampus gw ( PTN ) man… dan nyontek hbs ..
    so ? tradisional tpi dicontek hm… nice..

  6. piyut says:

    hehehe..emang gw bilang klo ptn di indonesia itu tradisional man?? Untuk pemeringkatan oleh globe asia ini memang agak aneh, meskipun gw almamater uph, tapi pertama kali baca juga kaget habis. how come??…peace! hehehe… ini ada opini mengenai pemeringkatan universitas oleh globe asia.

    http://www.kompas.com/kompascetak/read.php?cnt=.kompascetak.xml.2008.02.15.03131\

    247&channel=2&mn=11&idx=11

    “Bubble Information” PTS Konglomerat
    Jumat, 15 Februari 2008 | 03:13 WIB
    Oleh: Priyo Suprobo

    Hasil pemeringkatan perguruan tinggi negeri dan perguruan tinggi swasta yang
    dimuat majalah Globe Asia amat mengagetkan.

    Pada edisi Februari 2008, majalah ini menempatkan Universitas Pelita Harapan
    (UPH)-yang sekelompok dengan majalah itu- sebagai ranking kedua di bawah UI
    mengalahkan perguruan tinggi negeri (PTN) dan perguruan tinggi swasta (PTS)
    terkemuka di Indonesia.

    Contoh, total score UPH (356) “diposisikan” mengalahkan lima PTN besar
    seperti UGM (338), ITB (296), IPB (283), Unair (279), dan ITS (258). Begitu
    pula terhadap PTS terkemuka seperti Trisakti (263), Atma Jaya (243), Unpar
    (230), dan Petra (151).

    Sebagai seorang akreditor perguruan tinggi yang mengakreditasi PTN-PTS,
    terasa ada keanehan dalam “pemosisian” ranking oleh Globe Asia.

    Keanehan pertama, Globe Asia menggunakan aneka kriteria yang meski “mirip”
    lembaga pemeringkat internasional, tetapi memberi “bobot” berbeda. Contoh,
    bobot fasilitas kampus 16 persen, tetapi bobot kualitas staf akademik
    (dosen) 9 persen. Lebih parah lagi, kualitas riset dibobot 7 persen.

    Keanehan kedua, subkriteria fasilitas kampus tidak memasukkan kapasitas
    bandwidth sebagaimana standar akreditasi.

    Keanehan ketiga, sistem membandingkan yang tidak berbasis kaidah logis dasar
    apple to apple (kesederajatan).

    Standar akreditasi

    Menilik standar akreditasi, ada akreditasi dalam negeri (Dikti), regional
    asia (Asia University Network), maupun akreditasi pemeringkatan dunia (THES,
    Jiao Tong, Webbo). Akreditasi dalam negeri, regional, dan dunia menggunakan
    kriteria dan key performance indicator (KPI) yang “logis secara akademis”.
    Artinya, meski bervariasi, kriteria itu benar-benar menunjukkan “jaminan
    mutu” dari input, proses, sarana pendukung, hingga outcome. Dari kriteria
    dan subkriteria itu, tidak ada yang hanya menunjukkan keunggulan “kemewahan
    lifestyle”. Demikian juga membandingkan universitas dengan institut, yang
    nature kriterianya pasti berbeda.

    Maka, ranking yang dilakukan Globe Asia dikhawatirkan menjadi “penipuan”
    informasi yang bubble kepada publik. Penipuan ini menjadi meluas saat
    dirilis begitu saja oleh sebuah koran sore.

    Mungkin fenomena ini adalah akibat komersialisasi pendidikan di Indonesia.
    Pendidikan, khususnya pendidikan tinggi, telah menjadi komoditas “empuk”
    untuk menaikkan status sosial pemilik guna meraup keuntungan besar. Di
    tangan para penyulap bisnis, pendidikan dikelola dengan citra lifestyle,
    bukan dengan citra qualistyle (gaya kualitas). Mereka menyusun ranking
    sesuai kekuatan yang dimiliki, tetapi menyembunyikan kelemahan yang
    seharusnya menjadi kriteria akreditasi. Akibatnya, segala cara akan
    dilakukan agar target meraih mahasiswa selama periode marketing tiap awal
    tahun (Februari-Juli) dicapai dengan memuaskan.

    Mengganggu PTN-PTS

    Bubble informasi yang dilakukan Globe Asia untuk menaikkan citra UPH itu
    secara langsung akan mengganggu citra beberapa PTN maupun PTS yang dikelola
    dengan kaidah jaminan mutu yang baik. Sebagai gambaran, sistem Webbo Rank
    (Juli 2007), yang merupakan sistem akreditasi dunia pada penekanan kriteria
    kerapian manajemen data, menempatkan PTS terkenal di kawasan timur,
    Universitas Petra, pada ranking ke-49 se-Asia Tenggara, UGM dan ITB ranking
    ke-12 dan 13. Padahal, Webbo Rank adalah sistem dunia yang dianggap “paling
    sederhana”.

    Karena itu, sebagai regulator, pemerintah bersama masyarakat sudah saatnya
    secara aktif mengawasi pola komersialisasi pendidikan yang dampaknya
    menggunakan cara-cara tidak fair dalam merekrut mahasiswa.

    Hasil kerja Badan Akreditasi Nasional (BAN) yang membuat 15 standar
    penilaian, antara lain tata kelola kepemimpinan, fasilitas lab, alumni,
    jumlah guru besar (tidak perlu harus expert asing), rasio dosen-mahasiswa,
    prestasi mahasiswa, hingga rasio antara jumlah peminat dengan yang diterima,
    merupakan kriteria yang amat lengkap untuk menunjukkan daya saing suatu
    perguruan tinggi.

    Daya saing pendidikan tinggi sebagaimana diamanatkan dalam konsep strategis
    Higher Education Long Term Strategy (HELTS) Dikti harus dicapai dengan
    sistem penjaminan mutu yang benar sehingga hasilnya bisa dilihat, salah
    satunya dengan kriteria akreditasi yang logis secara akademis, bukan logis
    secara bisnis.

    Priyo Suprobo Rektor ITS; Tim Akreditasi PT-Ditjen Dikti Depdiknas

  7. frdkeren says:

    uph lah emank keren lah coy..

    zzz… pada iri aja..

  8. jess says:

    @gi..menurut gw siih di semua kampus juga ada orang yang kaya gitu ya…PTN atopun PTS mana aja…gw anak ph..pertama kali mao masuk ph..gw mikir juga kayanya anak ph pada borju semua, ngandelin duit bokap n kuliahnya maen2 aja…
    tapi setelah gw masuk sono…ternyata semua yg gw pikir tu sala..kalo soal kuliah tuh mereka bener2 serius..n ga ada tuh yang namanya sok gara2 bokapnya kaya…kebanyakan malah berusaha buat nyari duit sendiri…well..emang sih ada yang kaya temen lu…tapi cuman beberapa orang aja…jadi ya..intinya sih gw mao ngerubah pandangan masyarakat aja soal mahasiswa uph…

  9. piyut says:

    yup..apa yang dibilang jess bener. kita tunggu aja kiprah uph. Kalau aku denger dan baca tentang uph, sepertinya sekarang lebih bagus dari jaman gw kuliah dulu, gw angkatan 98, lulus 2002. jadi kangen ma suasana lippo karawaci, main futsal tiap minggu pagi.

  10. kimie says:

    orang juga tau itu universitas orang kaya yang pada bego doang ………..

  11. piyut says:

    mas kimie, lebih bijaksanalah dalam menilai dan memberikan komentar.

  12. cradle of filth says:

    Hidup kimie……

  13. cradle of filth says:

    seburuk-buruknya ptn yg peminatnya sedikit. masih bisa disandingkan ama UPH. (wise Words)

  14. Myhem says:

    tapi yg terpenting adalah bangga ama universitas sendiri.

  15. Nikko Tolkki says:

    kalu soal fasilitas, UI, UGM, ITB, USU, ITS,IPB,UIN, UNDIP, UNPAD dan PTN lain boleh angkat tangan soalnya ga da dana dari pemerintah (sedikit bgt gitu). Tapi SDM nya!!!!!!!!!

    Terbukti!

  16. Adler says:

    UPH itu Universitas anak Goblok mana mungkin bisa ngalahin UGM. Ndak punya moral itu Grup Lippo kalau kasih promosi.

    Sinting betul UPH bisa ngalahin UGM, ha…, ha…

    Ndak lihat ranking TIMES, UGM secara overall terbaik se Indonesia. Bahkan untuk klaster ilmu Sosial masuk dalam 50 besar terbaik di dunia untuk Humaniora dan Kedokteran masuk dalam 100 besar.

    Lihat Ranking Internasional Webiometrics. UGM itu salah satu yang terbaik di Asia. Di Indonesia UGM itu the of the best. Bahkan peringkat UGM terpaut 1000 lebih peringkat dari UI. UGM sekitar 600-an, UI peringkatnya 1800 an.

    UPH, itu sih kelas Ecek-ecek!

    Hanya Lippo sinting aja yang bisa meranking universitas Chen-cheng Po model UPH lebih baik dari UGM.

    Bener ranking tanp moral dari Grup Konglomerat hitam. Kalau begini moral seperti apa yang bisa diharapkan dari para alumni UPH.

    Jika saya alumni UPH maka saya MALU dengan ranking palsu itu.

  17. KrisFlyer says:

    gua ank Ph, ga lulus2. uda 5 thnan. soalnya kl ga belajar, di ph ga bakal lulus… dosen2 di ph banyak duit jd ga bisa di sogok. coba kl di uni negri dosennya miskin2, bisa di sogok. jd bisa cepet lulus..

  18. piyut says:

    wah wah wah…tidak usah menjelek2an universitas lain, yang penting gmn kita bisa belajar, dimanapun itu, mau di univeristas swasta yang belum punya nama, universitas negeri atau di universitas yang sudah punya rangking dan output sdm yang sudah diakui masyarakat. Itu semua cuma sebagai tempat kita untuk belajar, gak menutup kemungkinan, di universitas yang sudah diakui masyarakat akan output sdm yang handal, ada beberapa mahasiswa yang di DO. Di universitas swasta juga tidak menutup kemungkinan ada output yang bisa mengalahkan universitas negeri. Aku lulus 4 tahun di uph, sebenarnya bisa 3.5 thn tapi masih pingin agak lama di uph dengan suasana yang nyaman dan bisa melihat-lihat mahasiswi2 uph yang modis dan cantik..hehehe..maklum, waktu itu gw ambil T. elektro yang sebagian besar adalah cowok, angkatan senior dan yunior gw ada yang cewek, tapi ya gitulah…hahahaha…gw dulu diterima kok umptn di UGM dan masih banyak temen2 gw yang keterima di ITB dan PTN2 lain.
    * Tidak ada yang sempurna di dunia, hanya Allah Sang Maha Sempurna!

  19. hmmm says:

    pada iri??
    hmmm… apa bener?
    temen gw di UPH udah lulus… disuruh ma temen gw yang lane tolong install ulang windows aja ga bisa… swt banget ga thu…

  20. zzz says:

    o ia… nambahi.. koq saling ngolok2 ya…
    kapan indonesia mau maju…
    ada yang ga lulus2?
    hmmm uph ma harvard lebih susah mana? kalo di uph ga lulus2 namanya BODOH

  21. wew says:

    o ya? setau gw, temen gw yang ampir ga naek kelas di sma koq bisa ipk nya 3 mulu ya… hmmm… aneh ga se…
    cuman modal bonyok tajir doank…

  22. KrisFlyer says:

    lo jg bln pantes masuk harvard

  23. Adler says:

    Bohong Ente diterima UMPTN UGM ndak diambil. Ndak lulus ngomong aja ndak lulus. Jangan ngaku-2 ah.

    Memang mental Konglomerat Hitam, Lippo, UPH dan para mahasiswanya sama. Sama-2 pembohong besar.

    Diterima UMPTN UGM, ngambil UPH. Hanya orang goblok yang mau melakukan itu.

    Saya lulusan Jerman dan Inggris itu ndak tahu apa itu UPH. Kalau UGM, uNiversitas mana di Inggris dan Jerman yang tidak menghormatinya.

    Sebagai konsultan yang tinggal di Eropa, saya malu dengan mental para pembohong model UPH. Mau memang tapi dengan cara yang curang…

  24. Adler says:

    UPH dan Lippo adalah kumpulan para penipu yang memberikan kesaksian palsu, untuk sebuah informasi palsu…

    Kalau mau menang dalam kompetisi pake cara yang elegan dong. Jangan cara penipuan informasi.

    Kecuali gedung megah, UPH itu ndak punya fasilitas (jika fasilitas itu berdasarkan standard akademik Internasional). Ndak percaya? Lihat ranking Webiometrics, itu ranking sangat terkait erat dengan fasilitas cybernetic. Apa UPH masuk dalam ranking tersebut?
    Jadi, siapa yang bilang fasilitas PTN itu di UPH? UGM, ITB itu masuk dalam rangking Weboimetrics.

    UPH? Itu benar-2 Universitas tanpa malu memuja diri. Yang tidak dimiliki oleh UPH itu cuma satu: RASA MALU!

  25. rmln says:

    HIDUP UI!!!
    Lu orang bisa nomong macam-macam!!

    Di hati gw, UI tetap nomer 1!!!

  26. KrisFlyer says:

    di mana2 jg swasta fasilitas lebih bagus dr pada negri.

    Alder perna ke UPH?

  27. Adler says:

    Saya tahu sekali UPH itu. Bahkan beberapa mahasiswa SGU (Swiss German University) yang di DO, biasanya pindahnya ke UPH.

    Kenapa? karena kuliah di UPH mudah. Ndak mungkinlah D.O. dari SGU pindah UGM atau ITB, bisa sakit jiwa karena stress dengan beban akademik yang begitu berat. Kalau kuliah di UGM, kalian harus membaca ratusan buku dan jurnal dalam B. Asing mana mungkin kalian mampu. Lah wong Rektor UPH sendiri mengakui bahwa mahasiswa UPH itu malas membaca kok =))

    Mau bukti?
    Mana pernah anak UPH juara lomba peneliti ilmiah Nasional. Asal anda tahu, yang juara itu selalu dari UGM atau IPB. Silahkan anda cek datanya.

    Jadi, di UPH, anak manja saja bisa lulus. Baca buku itu tradisi langka buat anak UPH.

    Anda keliru swasta lebih bagus dari negeri dalam fasilitas. Kalau fasilitas life style mungkin iya. Jadi, pasti yang anda pamerkan tentang fasilitas itu adalah fasilitas lifestyle, bukan fasilitas hi-tech yang berhubungan dengan akademik.

    Lihat saja, dalam field Bandwith setidaknya tercermin dalam ranking Webiometrics, UPH itu kelas kacangan! Ndak masuk hitungan sama sekali. Alias cuma level kentut!

    Artinya, fasilitas Hi-Tech yang behubungan dengan tradisi akademik, UPH itu ndak ada apa-2 nya dibanding UGM atau ITB…
    Disitulah kalau orang UPH melihat HI-Tech dalam perspektif anak manja dan anak mami. Ndak ngerti yang namanya Hi-Tech itu apa.

    Kalau fasilitas akademik seperti jurnal-2 ilmiah yang berlangganan, bandwith, biaya riset, lab, dll. PTN itu jauh lebih lengkap dari swasta. Kenapa? Karena mereka disubsidi oleh APBN. PTN itu universitas super kaya. Anda keliru jika anggap PTN itu miskin. Jika PTN miskin mana mungkin jumlah Dosen UGM yang berkualifikasi Doktor itu mencapai hampir 1.000. Untuk sekolah doktor ente pikir murah?

    Kalau UPH? seorang level Drs. aja diangkat Prof. Kalau di UGM, Drs. itu cuma kelas Tata Usaha!

  28. KrisFlyer says:

    ga gt ngerti gua.. hahaha

  29. KrisFlyer says:

    kasian amt tuh yg Drs. mending ga usa kul tinggi2. cari duit aja ga bs.

  30. Adler says:

    Prof. Drs. Yongky Safanayong…adalah Guru Besar UPH =))

    Cuma Drs. bisa Professor? Bener-2 panceklik orang pinter UPH nih?
    Percaya deh, di UGM itu seorang Drs. cuma jadi petugas TU alias tukang foto copy. Lha wong dosen yang Dr. itu hampir 1000 orang kok…

  31. mona says:

    pliss deh mas-mas ga usah ampe keluar taring semua gitu deh jelek2in uph. santai aja napa…napsu amat seh. takut kesaing banget.

  32. Adler says:

    UPH terlalu jauh untuk selevel dengan UGM dan ITB. Telalu jauh…

    Tapi kalau masyarakat keras mengkritis UPH, karena ini persoalan moral. UPH telah melakukan kesalahan besar dalam dunia akademis. UPH gagal menjunjung tinggi kebenaran moral!

    UPH telah melakukan penipuan informasi ke masyarakat. Jika sebuah institusi pendidikan telah melakukan manipulasi informasi ke masyarakat, maka moral alumni seperti apa yang akan terlahir dalam institusi tersebut? (Baca: UPH)

    Masyarakat harus mengkritis UPH (yang mungkin sudah terbiasa punya tradisi konglomerat hitam). UPH harus sadar betul bahwa berbohong itu secara akademis adalah perbuatan tercela yang tidak termaafkan.

    Saya berharap ini adalah kebohongan terakhir yang dilakukan UPH kepada masyarakat.

  33. piyut says:

    halo mas adler,

    Terima kasih atas tuduhanya kalau aku ‘bohong’. ;) Memang aku tidak bisa buktiin kalau aku dan ada beberapa temenku dulu ada yang keterima di PTN, UGM dan ITB. Alasan kenapa aku ambil kuliah di UPH adalah karena faktor ekonomi orang tuaku. Alhamdulillah, aku mendapatkan beasiswa di UPH. Aku ingin sekali meringankan beban orang tuaku, itulah kenapa aku ambil kuliah di UPH. Buat temen2 yang lain yang sudah memberikan komentar, aku ucapkan banyak terima kasih.

  34. Khaidar says:

    gw no comment aja dah hehe…. :D