Bersabarlah!

Posted: Monday, December 6, 2010 in Tulisan

Bersabar bukan suatu hal yang mudah, berusahalah untuk menjadi orang yang sabar dan isi pikiran dengan hal-hal yang positif.

Percakapan seorang anak dengan mamanya

Posted: Monday, December 6, 2010 in Tulisan

Seperti biasa, weekend biasanya ajak keluarga ke luar rumah, entah itu makan or cuma jalan2. Di minggu pagi, terdengar percakapan seorang mama (red: bini gw) dengan seorang anak (red: anak gw).
mama: dek, hari ini mau pergi kemana?
anak: ke mall ma…
mama: mau ngapain ke mall dek ?
anak: naik kuda-kudaan ma…
mama: gak bosen dek?
anak: enggak ma, kan di mall menyenangkan…
mama: hahahahahahahahha

gw yang waktu itu dikamar mandi (red: buang hajat) ikut ketawa…hahahahhaha, gak nyangka anak gw bisa ngomong gitu. Ternyata anak gw niru percakapan di salah satu film kartun playhouse disney.
Semoga dimudahkan segala urusanmu ya nak…!!!

Sayangilah buah hati anda sesibuk apapun anda.

Posted: Thursday, September 2, 2010 in Tulisan

Kutip dari kaskus

Bunda, tolong mandikan aku sekali saja

Dewi adalah sahabat saya, ia adalah seorang mahasiswi yang berotak cemerlang dan memiliki idealisme yang tinggi. Sejak masuk kampus, sikap dan konsep dirinya sudah jelas: meraih yang terbaik di bidang akademis maupun profesi yang akan digelutinya. ”Why not to be the best?,” begitu ucapan yang kerap kali terdengar dari mulutnya, mengutip ucapan seorang mantan presiden Amerika.

Ketika Kampus, mengirim mahasiswa untuk studi Hukum Internasional di Universiteit Utrecht-Belanda, Dewi termasuk salah satunya.

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Dewi mendapat pendamping hidup yang ”selevel”; sama-sama berprestasi, meski berbeda profesi. tak lama berselang lahirlah Bayu, buah cinta mereka, anak pertamanya tersebut lahir ketika Dewi diangkat manjadi staf diplomat, bertepatan dengan suaminya meraih PhD. Maka lengkaplah sudah kebahagiaan mereka.

Ketika Bayu, berusia 6 bulan, kesibukan Dewi semakin menggila. Bak seekor burung garuda, nyaris tiap hari ia terbang dari satu kota ke kota lain, dan dari satu negara ke negara lain. Sebagai seorang sahabat setulusnya saya pernah bertanya padanya, “Tidakkah si Bayu masih terlalu kecil untuk ditinggal-tinggal oleh ibundanya ?” Dengan sigap Dewi menjawab, “Oh, saya sudah mengantisipasi segala sesuatunya dengan sempurna”. “Everything is OK !, Don’t worry Everything is under control kok !” begitulah selalu ucapannya, penuh percaya diri.

Ucapannya itu memang betul-betul ia buktikan. Perawatan anaknya, ditangani secara profesional oleh baby sitter termahal. Dewi tinggal mengontrol jadwal Bayu lewat telepon. Pada akhirnya Bayu tumbuh menjadi anak yang tampak lincah, cerdas mandiri dan mudah mengerti.

Kakek-neneknya selalu memompakan kebanggaan kepada cucu semata wayang itu, tentang betapa hebatnya ibu-bapaknya. Tentang gelar Phd. dan nama besar, tentang naik pesawat terbang, dan uang yang berlimpah. “Contohlah ayah-bundamu Bayu, kalau Bayu besar nanti jadilah seperti Bunda”. Begitu selalu nenek Bayu, berpesan di akhir dongeng menjelang tidurnya.

Ketika Bayu berusia 5 tahun, neneknya menyampaikan kepada Dewi kalau Bayu minta seorang adik untuk bisa menjadi teman bermainnya dirumah apa bila ia merasa kesepian.

Terkejut dengan permintaan tak terduga itu, Dewi dan suaminya kembali meminta pengertian anaknya. Kesibukan mereka belum memungkinkan untuk menghadirkan seorang adik buat Bayu. Lagi-lagi bocah kecil inipun mau ”memahami” orangtuanya.

Dengan Bangga Dewi mengatakan bahwa kamu memang anak hebat, buktinya, kata Dewi, kamu tak lagi merengek minta adik. Bayu, tampaknya mewarisi karakter ibunya yang bukan perengek dan sangat mandiri. Meski kedua orangtuanya kerap pulang larut, ia jarang sekali ngambek. Bahkan, tutur Dewi pada saya , Bayu selalu menyambut kedatangannya dengan penuh ceria. Maka, Dewi sering memanggilnya malaikat kecilku. Sungguh keluarga yang bahagia, pikir saya. Meski kedua orangtuanya super sibuk, namun Bayu tetap tumbuh dengan penuh cinta dari orang tuanya. Diam-diam, saya jadi sangat iri pada keluarga ini.

Suatu hari, menjelang Dewi berangkat ke kantor, entah mengapa Bayu menolak dimandikan oleh baby sitternya. Bayu ingin pagi ini dimandikan oleh Bundanya,” Bunda aku ingin mandi sama bunda…please…please bunda”, pinta Bayu dengan mengiba-iba penuh harap.

Karuan saja Dewi, yang detik demi detik waktunya sangat diperhitungkan merasa gusar dengan permintaan anaknya. Ia dengan tegas menolak permintaan Bayu, sambil tetap gesit berdandan dan mempersiapkan keperluan kantornya. Suaminya pun turut membujuk Bayu agar mau mandi dengan baby sitternya. Lagi-lagi, Bayu dengan penuh pengertian mau menurutinya, meski wajahnya cemberut.

Peristiwa ini terus berulang sampai hampir sepekan. “Bunda, mandikan aku !” Ayo dong bunda mandikan aku sekali ini saja…?” kian lama suara Bayu semakin penuh tekanan. Tapi toh, Dewi dan suaminya berpikir, mungkin itu karena Bayu sedang dalam masa pra-sekolah, jadinya agak lebih minta perhatian. Setelah dibujuk-bujuk, akhirnya Bayu bisa ditinggal juga dan mandi bersama Mbanya.

Sampai suatu sore, Dewi dikejutkan oleh telpon dari sang baby sitter, “Bu, hari ini Bayu panas tinggi dan kejang-kejang. Sekarang sedang di periksa di Ruang Emergency”.

Dewi, ketika diberi tahu soal Bayu, sedang meresmikan kantor barunya di Medan. Setelah tiba di Jakarta, Dewi langsung ngebut ke UGD.Tapi sayang… terlambat sudah…Tuhan sudah punya rencana lain. Bayu, si malaikat kecil, keburu dipanggil pulang oleh Tuhannya.. Terlihat Dewi mengalami shock berat. Setibanya di rumah, satu-satunya keinginan dia adalah untuk memandikan putranya, setelah bebarapa hari lalu Bayu mulai menuntut ia untuk memandikannya, Dewi pernah berjanji pada anaknya untuk suatu saat memandikannya sendiri jika ia tidak sedang ada urusan yang sangat penting. Dan siang itu, janji Dewi akhirnya terpenuhi juga, meskipun setelah tubuh si kecil terbujur kaku.

Ditengah para tetangga yang sedang melayat, terdengar suara Dewi dengan nada yang bergetar berkata “Ini Bunda Nak…., Hari ini Bunda mandikan Bayu ya…sayang….! akhirnya Bunda penuhi juga janji Bunda ya Nak..” . Lalu segera saja satu demi satu orang-orang yang melayat dan berada di dekatnya tersebut berusaha untuk menyingkir dari sampingnya, sambil tak kuasa untuk menahan tangis mereka.

Ketika tanah merah telah mengubur jasad si kecil, para pengiring jenazah masih berdiri mematung di sisi pusara sang Malaikat Kecil. . Berkali-kali Dewi, sahabatku yang tegar itu, berkata kepada rekan-rekan disekitanya, “Inikan sudah takdir, ya kan..!” Sama saja, aku di sebelahnya ataupun di seberang lautan, kalau sudah saatnya di panggil, ya dia pergi juga, iya kan?”. Saya yang saat itu tepat berada di sampingnya diam saja. Seolah-olah Dewi tak merasa berduka dengan kepergian anaknya dan sepertinya ia juga tidak perlu hiburan dari orang lain.

Sementara di sebelah kanannya, Suaminya berdiri mematung seperti tak bernyawa. Wajahnya pucat pasi dengan bibir bergetar tak kuasa menahan air mata yang mulai meleleh membasahi pipinya.

Sambil menatap pusara anaknya, terdengar lagi suara Dewi berujar, “Inilah konsekuensi sebuah pilihan!” lanjut Dewi, tetap mencoba untuk tegar dan kuat.

Angin senja meniupkan aroma bunga kamboja yang menusuk hidung hingga ke tulang sumsum. Tak lama setelah itu tanpa di duga-duga tiba-tiba saja Dewi jatuh berlutut, lalu membantingkan dirinya ke tanah tepat diatas pusara anaknya sambil berteriak-teriak histeris. “Bayu maafkan Bunda ya sayaang..!!, ampuni bundamu ya nak…? serunya berulang-ulang sambil membenturkan kepalanya ketanah, dan segera terdengar tangis yang meledak-ledak dengan penuh berurai air mata membanjiri tanah pusara putra tercintanya yang kini telah pergi untuk selama-lamanya.

Sepanjang persahabatan kami, rasanya baru kali ini saya menyaksikan Dewi menangis dengan histeris seperti ini.

Lalu terdengar lagi Dewi berteriak-teriak histeris “Bangunlah Bayu sayaaangku….Bangun Bayu cintaku, ayo bangun nak…..?!?” pintanya berulang-ulang, “Bunda mau mandikan kamu sayang…. Tolong Beri kesempatan Bunda sekali saja Nak…. Sekali ini saja, Bayu.. anakku…?” Dewi merintih mengiba-iba sambil kembali membenturkan kepalanya berkali-kali ke tanah lalu ia peluki dan ciumi pusara anaknya bak orang yang sudah hilang ingatan. Air matanya mengalir semakin deras membanjiri tanah merah yang menaungi jasad Bayu.

Senja semakin senyap, aroma bunga kamboja semakin tercium kuat manusuk hidung membuat seluruh bulu kuduk kami berdiri menyaksikan peristiwa yang menyayat hati ini…tapi apa hendak di kata, nasi sudah menjadi bubur, sesal kemudian tak berguna. Bayu tidak pernah mengetahui bagaimana rasanya dimandikan oleh orang tuanya karena mereka merasa bahwa banyak hal yang jauh lebih penting dari pada hanya sekedar memandikan seorang anak.

Semoga kisah ini bisa menjadi pelajaran berharga bagi kita semua para orang tua yang sering merasa hebat dan penting dengan segala kesibukannya.

Semoga bisa jadi pelajaran buat kita semua…saya hanya melanjutkan berita ini…moga2 banyak yang baca dan makin peduli bahwa anak itu titipan Tuhan yang sangat berarti dan bermakna serta harus dijaga..

Selamat Jalan Pak Dhe …

Posted: Thursday, August 26, 2010 in Tulisan

Manusia diciptakan oleh Allah SWT dan akan kembali kepada-NYA.
Innalillahiwainailaihirajiun! Siang ini mendapatkan telepon dari bapak di Bantul, awalnya kaget karena suara bapak dicampuri dengan isak tangis. “Yul, Pak Dhe Tugirin meninggal barusan, kowe telpono mbakyu mu yo…”, innalillahiwainailaihirajiun! Dug dug dug…setelah berbulan-bulan mengalami kesakitan, sang pencipta akhirnya memanggilnya. Pak Dhe, kakak kandung dari simbok, sosok orang yang bisa di bilang sukses di kampung, berkarir sebagai seorang guru Agama dan karyawan di Departemen Agama Bantul, dari situ almarhum memperoleh apa yang kebanyakan orang inginkan. Almarhum juga sosok orang yang suka dipanggil untuk berdakwah di acara-acara pengajian (red: Ustad). Dialah yang menyematkan topi wisuda waktu aku lulus TPA (Taman Pendidikan Alquran), masih inget waktu itu aku yang di suruh maju ke depan untuk membaca salah satu surat alquran, dialah yang mengantarku Ijab Qabul, selamat jalan Pak Dhe Tugirin, semoga Allah SWT menerimamu di sisi-NYA dan mengampuni dosa-dosa selama hidup!

Sebenarnya, ada cerita lain selama Pak Dhe mengalami kesakitan, ada seorang yang selalu senantiasa mendampingi dan merawatnya, mencarikan jalan supaya diberikan kesembuhan baik dari sisi medis maupun lewat alternatif. Seseorang itu bukan saudara kandung dari almarhum, dia hanyalah adik ipar dari almarhum, tapi almarhum selalu dan selalu mengandalkan dia untuk merawat, mencarikan obat dan tetek bengeknya.
Orang itu adalah bapakku sendiri. Bapak, semoga kebaikan demi kebaikan yang selama ini bapak lakukan mendapatkan balesan dari Allah SWT! Amin!

This is it!

Posted: Thursday, August 26, 2010 in HP-UX

hp-ux 11.11 terbatas untuk size filesystemnya, maksimal hanya mampu 2 Tera…uelek e tenan…
Pengalaman baru2 ini, ada temen yang sudah terlanjur extend logical volume (LV) menjadi 2.5 tera tanpo ngomong2 sek karo mbah e…giliran mau di extend filesystemnya, GaTot (red: Gagal Total). Bikin kepikiran teruss, akhirnya coba posting di forum hp…welll….dapat jawaban yang OK dan langsung di test. Hasilnya? maknyusss…data gak corrupt dan bisa di mounting dengan mulus. Plongg….tinggal melanjutkan pekerjaan yang pending kemarin…
Berikut link forumnya:

http://forums11.itrc.hp.com/service/forums/questionanswer.do?threadId=1445041